10 Agustus 2008

Mampukah Kita Mencintai Tanpa Syarat?

Dilihat dari usianya, beliau sudah tidak muda lagi. Usia yang sudah senja, bahkan mendekati malam. Pak Suyatno, begitu biasa ia dipanggil, mengisi kesehariannya dengan merawat istrinya yang sakit. Istrinya juga sudah tua.

Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia empat orang anak. Di sinilah awal cobaan menerpa. Setelah melahirkan anak ke empat, kaki istrinya tiba-tiba lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama dua tahun. Menginjak tahun ketiga seluruh tubuhnya menjadi lemah, bahkan terasa tidak bertulang. Lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat bekerja, dia meletakkan istrinya di depan TV, supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara, tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum. Untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya, sehingga siang hari dia bisa pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya, dia pulang kembali untuk memandikan dan mengganti pakaian istrinya. Selepas maghrib dia menemani istrinya menonton televisi, sambil menceritakan apa saja yang dia alami selama seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang dan tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan sabar dia merawat istrinya, sambil membesarkan keempat buah hati mereka.

Sekarang anak-anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari keempat anak Pak Suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah menikah anak-anak mereka sudah tinggal bersama keluarga masing-masing dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang penting semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata,"Pak kami ingin sekali merawat ibu. Semenjak kami kecil, kami melihat bapak merawat ibu. Tidak ada sedikitpun keluhan ke luar dari bibir bapak...bahkan bapak tidak mengizinkan kami menjaga ibu".

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya,"Sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami merasa ibupun akan mengizinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini? Kami sudah tidak tega melihat bapak, kami berjanji kami akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian".

Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya." Anak-anakku.... Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah....tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku, itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian...kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta. Tidak ada yang dapat mengganti itu dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang. Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit."

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa?

Di saat itulah meledak tangis beliau. Dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuan, mereka pun tidak sanggup menahan haru. Di situlah Pak Suyatno bercerita.

"Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya, bukan dengan mata, dan dia memberi saya empat orang anak yang lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kami. Dan itu merupakan ujian bagi saya. Apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya? Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya, apalagi dia sakit..."

sumber: kiriman seorang teman

Etalase Pencapaian Bangsa China



Atraksi kembang api yang spektakuler mewarnai pembukaan Olimpiade Beijing, China, Jumat (8/8).

Beijing - Salah satu rangkaian penting dalam acara pembukaan Olimpiade 2008 adalah penampilan ribuan penari yang menggambarkan perjalanan peradaban bangsa China. Dimulai dari 2.008 orang pemukul fou, tambur tradisional China, yang menghitung mundur saat dimulainya pembukaan, 91.000 penonton di Stadion Bird Nest digiring menyaksikan perjalanan sejarah budaya bangsa China.

Tepat pukul 20.00, letusan kembang api yang membentuk tapak kaki terdengar berurutan di 29 lokasi, bergerak dari Lapangan Tiananmen menuju stadion, menyimbolkan perjalanan Olimpiade yang berlangsung ke- 29. Kembang api adalah satu dari empat penemuan China kuno.

Perjalanan budaya kemudian divisualisasikan di atas gulungan kertas kosong, penemuan penting kedua bangsa China. Disusul penemuan ketiga, mesin cetak bergerak, yang menampilkan evolusi aksara China, ”He”, yang berarti harmoni. Dari sini cerita berlanjut dengan visualisasi era dinasti-dinasti China. Ribuan penari menyinergikan gerak yang berfokus pada 32 tiang tinggi sebagai simbol kaisar-kaisar China. Kemudian dihadirkan visualisasi masa ketika bangsa China merintis ”Jalan Sutra” menuju ke Barat, baik lewat darat maupun saat menguasai lautan. Di tangan penari terdapat sebuah kompas kuno, penemuan penting keempat bangsa China.

Simbolisasi bentuk kapal besar oleh ribuan penari diakhiri dengan munculnya satu orang berpakaian Kaisar China di tengah lapangan. Pengaruh China hingga ke penjuru dunia berpusatkan pada satu orang, yakni Kaisar China. Setelah penggambaran kejayaan kekaisaran China, cerita berlanjut dengan visualisasi kemajuan China pada era modern.

Pianis populer China, Lang Lang, bermain piano besar di tengah lapangan dengan ditemani Li Muzi, gadis kecil berusia lima tahun. Mereka dikelilingi ribuan penari dengan kostum yang bisa menyala. Piano, produk budaya Barat, dijadikan sebagai simbol keberhasilan China mengadopsi kemajuan zaman.

Namun, terasa ada cerita yang hilang. Dari era dinasti yang penuh kejayaan, bukankah China melewati terlebih dahulu masa sangat suram pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, sebelum akhirnya dapat menjejak pada era modern.

Pada masa suram itu pecah berbagai pemberontakan, antara lain perang boxer pada abad ke-19 di bawah Dinasti Qing. Gempuran imperialisme Barat yang begitu hebat dan kegagalan China menangani berbagai persoalan di dalam negeri membuat bangsa ini terperosok. Sebaliknya, Jepang, mengalami kemajuan pesat setelah restorasi dimulai satu abad sebelumnya. Jepang masuk ke China dan memperburuk kondisi. Pada 1912 era kekaisaran China berakhir dengan turunnya Kaisar Pu Yi. Fase itu mungkin dianggap hanya bagian kecil dari bentang panjang sejarah China. Menampilkannya di dalam acara pembukaan boleh jadi merusak jalinan mosaik sejarah China.

sumber: kompas